Profil

Jumat, 26 November 2010

transpalasi organ,,, bahayakah itu????????????

Matas, asal Winnipeg-Kanada, untuk kali pertama berbicara (17/8) di Kongres yang dilangsungkan setiap dua tahun sekali itu, dengan tema “Hentikan kejahatan transplantasi organ yang terjadi di China”. Ia menyampaikan mengenai apa yang terjadi di China kepada beberapa ratus kalangan transplantasi organ, fakta tentang perampasan organ pengikut Falun Gong dan menyerukan kepada para ilmuwan dan ahli dari kalangan transplantasi organ agar mengambil tindakan menghentikan.

Dr. Ghazali Ahmad, ahli transplantasi asal Malaysia, setelah mendengar pidato Matas, dengan segera membuktikan lewat slide bahwa pernyataan Matas mengenai tahanan di China yang dirampas organnya betul-betul nyata.

Ahmad mengatakan, sejak pertengahan 90-an, setiap tahun selalu terdapat puluhan orang Malaysia pergi ke China melakukan operasi transplantasi organ. Ia menunjukkan: “Para pasien yang memperoleh organ di RRC, diberitahu membutuhkan penantian 2-3 hari, beberapa minggu atau bulan, dan memperoleh organ itu dari tubuh para narapidana yang dihukum mati.”

Ia mengatakan, “Pasien yang menunggu pesanan organ mengetahui dengan jelas, organ-organ tersebut berasal dari tahanan, selain itu apabila terjadi penolakan terhadap organ (oleh tubuh si pasien), pasien dapat menanti beberapa hari, akan memperoleh lagi sebuah organ pengganti lain.”

Ia menyatakan dilihat dari keadaan yang terjadi di Malaysia maka penyampaian Matas bisa dibuktikan kebenarannya.

Mengawasi PKC

Michael Shapiro, direktur dan ahli transplantasi organ terkenal dari Hackensack University Medical Center - AS menyatakan dengan gamblang, ia percaya realitas yang ditunjukkan Matas dan berharap rezim PKC menambah taraf transparansi agar masyarakat internasional dapat memahami sekaligus melakukan kontrol.

Sebagai dokter ahli, Shapiro menunjukkan, “Dokter jangan meng-anjurkan pasiennya ke luar negeri untuk memperoleh organ transplan, pemerintah juga seharusnya menentukan kebijakan, hentikan perawatan transplantasi organ untuk luar negeri dan penyediaan dananya, kecuali organ tersebut berasal dari jalur legal.”

Matas bersama David Kilgour mantan Sekretaris untuk Asia-Pasifik-Kanada menerbitkan buku Bloody Organ Harvesting yang merupakan kesimpulan dan seluruh bukti-bukti investigasi yang telah mereka kumpulkan selama 4 tahun terakhir, mengungkap kejahatan perampasan organ pengikut Falun Gong dalam keadaan hidup yang dikendalikan rezim PKC.

Asosiasi Transplantasi Kanada merupakan pionir di dunia tentang perumusan kebijakan pengarahan kepada para dokter dalam melayani pasien yang hendak melakukan transplantasi organ di luar negeri.

Kebijakan yang dirumuskan oleh Asosiasi Transplantasi Kanada ini berdasarkan pedoman dari World Health Assembly (Majelis Kesehatan Dunia) dan mendesak para negara anggota untuk melindungi kaum miskin dan lemah agar terhindar dari kejahatan transplantasi dan perdagangan organ.

Kebijakan itu menyebutkan, pasien sewaktu mengusahakan organ dari luar negeri, butuh mengetahui sisi moralitas dan bahaya pengobatan yang berkaitan dengan hal tersebut. Antara lain termasuk pihak penjual atau pemilik organ, ada kemungkinan dalam keadaan dirampas, dibunuh atau dipaksa.

Kebijakan itu juga menyebutkan, “Seluruh industri wisata transplantasi masih dalam keadaan rahasia, pihak penyedia organ demi memperoleh keuntungan tinggi, informasi yang disiapkan tak dapat dijamin akurasinya.”

Jika pasien tetap bersikukuh hendak melakukan transplantasi organ, kebijakan baru memperbolehkan dokter tidak memberikan kasus dan catatan medisnya atau membantu pasien memperoleh organ yang dijual. Sesudah si pasien kembali dari transplantasi, kecuali dalam keadaan darurat, dokter boleh menolak memberikan perawatan dan pengobatan kepada pasien tersebut.

Selain itu kebijakan tersebut juga menyebutkan, “Sejumlah bukti menunjukkan, di dalam sistem pemerintahan yang tidak transparan, transplantasi organ ilegal selain merugikan penerima organ juga mencelakai si penjual organ, oleh karena itu dokter diperbolehkan tidak menyediakan catatan medis dalam menghadapi hal semacam ini.”

Menurut laporan media Globe and Mail, Dr. John Gill, ahli transplantasi ginjal dari RS St. Paul Vancouver membeberkan, dokter RS tersebut pernah mengingatkan seorang pasien, apabila ia ke luar negeri menerima transplantasi organ maka mereka akan mengikuti kebijakan baru dari The Canadian Society of Transplantation dan mengakhiri hubungan perawatan medis tersebut, pasien itu pada akhirnya memutuskan untuk mengubah rencananya serta tidak lagi melakukan perjalanan ke China untuk transplantasi ginjal dari terpidana mati.

Serukan penghentian

Matas mengajak masyarakat internasional mau tampil ke depan, untuk menghentikan kejahatan perampasan organ itu. Sejumlah organisasi dan perusahaan sudah menyatakan merasa prihatin dan dukungannya. Ia membeberkan, “Kami menyaksikan, semakin banyak orang telah keluar tampil untuk menentang perampasan organ dari tubuh para narapidana”.

Organisasi Amnesti Internasional juga menghadiri Konges Transplantasi Organ Internasional itu dan menyerukan semua negara agar memperhatikan yang terjadi di China dan menyerukan perusahaan farmasi agar menghentikan percobaan obat-obatan di China yang masih berlangsung hingga kini.

Selain itu Matas juga membeberkan, perusahaan besar farmasi Novartis, sudah merespon usulan Amnesti Internasional untuk tidak lagi melakukan uji klinis Anti-transplantasi-penolakan obat di China. Asosiasi HAM Internasional yang berpusat di Jerman, juga menyatakan sangat prihatin dengan kasus perampasan organ dalam keadaan hidup pengikut Falun Gong di RRC. Ia beranggapan, “Hal-hal tersebut sangat frontal”.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar