Profil

Rabu, 20 Oktober 2010

pengaruh perkembangan industri terhadap penanaman modal asing

Sejarah industri farmasi di Indonesia diawali dengan berdirinya pabrik farmasi pertama yang didirikan di Hindia Timur pada tahun 1817, yaitu NV. Chemicalien Rathkamp & Co dan NV. Pharmaceutische Handel Vereneging J. Van Gorkom & Co. pada tahun 1865. Sedangkan industri farmasi modern pertama kali di Indonesia adalah pabrik kina di Bandung pada tahun 1896.
Perkembangan selanjutnya, pada tahun 1957-1959 setelah perang kemerdekaan usai perusahaan-perusahaan farmasi milik Belanda yaitu Bovasta Bandoengsche Kinine Fabriek yang memproduksi pil kina dan Onderneming Jodium yang memproduksi Iodium dinasionalisasi oleh pemerintah Indonesia yang pada perkembangan selanjutnya menjadi PT Kimia Farma (persero). Sementara pabrik pembuatan salep dan kasa, Centrale Burgelijke Ziekeninrichring yang berdiri pada tahun 1918 menjadi perum Indofarma yang saat menjadi PT Indofarma (persero).
Namun demikian, perkembangan yang cukup signifikan bagi perkembangan industri farmasi di Indonesia adalah dikeluarkannya Undang-Undang Penanaman Modal Asing (PMA) pada tahun 1967 dan Undang-Undang Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) pada tahun 1968 yang mendorong perkembangan industri farmasi Indonesia hingga saat ini.
Dewasa ini, industri farmasi di Indonesia merupakan salah satu industri yang berkembang cukup pesat dengan pasar yang terus berkembang dan merupakan pasar farmasi terbedar di kawasan ASEAN. Dari data Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM RI, 2005), pertumbuhan industri farmasi Indonesia rata-rata mencapai 14,10% per tahun lebih tinggi dari angka pertumbuhan nasional yang hanya mencapai 5-6% per tahun. Total angka penjualan tahun 2004 mencapai lebih kurang Rp 20 triliun (untuk tahun 2005 sebesar Rp 22,8 triliun, dan tahun 2006 sebesar Rp 26 triliun). Namun jika dilihat dari omzet penjualan secra global (all over the world), pasar farmasi Indonesia tidak lebih dari 0,44% dari total pasar farmasi dunia.
Demikian pula jika dilihat dari angka konsumsi obat per kapita yang hanya mencapai kurang dari US$ 7,2 per kapita/tahun (IMS, 2004) dan merupakan salah satu angka terendah di kawasan ASEAN (sedikit di atas Vietnam). Konsumsi obat tertinggi adalah Singapura, disusul oleh Thailand, Malaysia, dan Filipina.
konsumsi obat ASEAN
Pasar farmasi Indonesia merupakan pasar yang terbesar di ASEAN. Ke depan pasar farmasi Indonesia diprediksikan masih mempunyai pertumbuhan yang cukup tinggi mengingat konsumsi obat per kapita Indonesia paling rendah di antara negara-negara ASEAN. Rendahnya konsumsi obat per kapita Indonesia tidak hanya disebabkan karena rendahnya daya beli tapi juga pola konsumsi obat di Indoneisa berbeda dengan di negara-negara ASEAN lainnya. Di Malaysia misalnya, pola penggunaan obat lebih mengarah pada obat paten. Harga obat paten jauh lebih mahal dibandingkan dengan harga obat branded generic.
Dengan makin membaiknya pendapatan per kapita dan sistem jaminan kesehatan Indonesia di masa mendatang, maka nilai peredaran obat di Indonesia akan besar. Keadaan ini tentu akan mempunyai korelasi postif dengan pertumbuhan industri farmasi Indonesia di masa mendatang.
Berdasarakan gambar di atas, total penjualan industri farmasi Indonesia terus meningkat dari tahun ke tahun. Berbeda dengan negara-negara ASEAN lainnya, pangsa pasar industri farmasi domestik Indonesia dibandingkan dengan PMA/MNC (Multi National Company) jauh lebih besar. Pada tahun 2005 diperkirakan pangsa pasar industri domestik sekitar 75% sedangkan MNC sekitar 25%. Di Malaysia dan Filipina market share produk MNC lebih dari 50% atau lebih besar dibandingkan dengan pangsa pasar industri domestiknya.
Ekpor obat Indonesia dari tahun ke tahun menunjukkan peningkatan meskipun nilainya relatif belum besar yaitu sekitar 5% dari total penjualan industri farmasi Indonesia. Dengan diberlakukannya harmonisasi regulasi farmasi ASEAN selambat-lambatnya tahun 2010 maka akan tercipta pasar tunggal ASEAN di bidang farmasi, dalam arti tidak ada lagi hambatan tarif maupun nontarif dalam perdagangan farmasi di region ASEAN. Ini berarti terbuka peluang bagi industri farmasi untuk mengembangkan ekspor di pasar ASEAN, tetapi pada saat yang sama pasar domestik Indonesia akan terancam masuknya produk-produk farmasi ASEAN dengan lebih leluasa di Indonesia.
Tabel Data ekspor obat Indonesia 2001-2004
Tahun
Nilai Ekspor (US $)
Jumlah negara
Jumlah industri
2001
71,64
59
26
2002
97,98
71
31
2003
98
89
29
2004
101,56
62
37
Dari data BPOM RI tahun 2005 menyebutkan bahwa terdapat 205 industri farmasi di Indonesia. Namun demikian yang aktif tinggal 188 industri terdiri dari 4 BUMN, 30 PMA dan 154 industri farmasi swasta nasional.
Jika dilihat dari penguasaan pasar, sebesar 54,5% dikuasai oleh 20 industri farmasi dan 70% dikuasai oleh 60 industri farmasi, sedangkan sisanya (118 industri) memperbutkan pasar sebesar 16%. Jika dilihat lebih jauh, ternyata tidak ada satupun industri yang mendominasi pasar. Sanbe Farma yang notabene indutsri ranking pertama hanya menguasai 7,25%, disusul Kalbe menguasai 5,99% pasar, sehingga pasar farmasi Indonesia terpecah-pecah menjadi pasar yang kecil-kecil (terfragmentasi). Hal ini tentu suatu kondisi yang tidak menguntungkan tatkala berhadapan dengan pasar bebas (AFTA/WTO) yang sebentar lagi akan tiba.
10-besar-penjualan-obat-indonesia
Di samping pasar yang terfragmentasi, masalah lain yang dihadapi industri farmasi nasional antara lain:
  1. Tidak adanya industri bahan baku. Hal ini mengakibatkan 95% bahan baku masih harus diimpor (harga bahan baku produksi dalam negeri tidak lebih murah ketimbang impor). Ketergantungan impor belum diimbangi dengan upaya pengembangan bahan baku lokal. Selain karena memerlukan biaya investasi yang tingi, daya dukung perlatan juga masih belum memadai.
  2. Idle kapasitas produksi industri farmasi nasional mencapai 50% karena belum adanya solusi yang tepat untuk menanggulanginya, termasuk alternatif melalui toll manufacturing maupun konsep production house.
  3. Penerapan aturan internasional terhadap standardisasi industri farmasi terutama menyangkut c-GMP, registrasi dan belum adanya koordinasi yang baik antara pemerintah (BPOM) denga industri farmasi.
  4. Kondisi industri farmasi nasional yang tidak merata. Di satu sisi terdapat sejumlah kecil industri farmasi yang sudah siap menghadapi pasar bebas, baik dari segi hardware, software maupun brainware (SDM), di sisi lain masih banyak industri yang belum memenuhi tuntutan persyaratan internasional.
Dari data pemetaan (mapping) industri farmasi Indonesia yang dilakukan BPOM tahun 2004-2005 terlihat bahwa tingkat pemenuhan terhadap persyaratan c-GMP masih jauh dari harapan.

No Aspek CPOB Jumlah industri farmasi Total
> 0,9 0,7-0,9 0,5-0,7 0,3-0,5 < 0,3
188
1 Sistem manajemen mutu 47 23 34 32 52 188
2 Dokumentasi 58 48 27 25 30 188
3 Validasi 26 21 15 29 97 188
4 HVAC/AHS 37 21 11 18 101 188
5 Water system 68 26 30 17 47 188
6 Sistem penanganan bahan 70 51 26 19 22 188
7 Produk steril 21 15 12 8 2 58
8 Pengemasan dan penandaan 77 53 23 22 13 188
9 Pengawasan mutu 49 40 28 39 32 188
10 Stabilitas 49 19 34 24 62 188
Rata-rata 49 32 24 23 46
Menghadapi harmonisasi pasar ASEAN pada tahun 2008 mendatang, BPOM selaku regulator industri farmasi nasional telah menerapkan berbagai strategi untuk meningkatkan kemampuan industri farmasi nasional, diantaranya:
  1. Penerapan c-GMP untuk peningkatan compliance terhadap persyaratan dan standar pharma global
  2. Mendorong industri farmasi nasional agar lebih efisien dan fokus dalam pelaksanaan produksi obat termasuk pemilihan fasilitas produksi yang paling feasible untuk dikembangkan
  3. Penerapan CPOB terkini (c-GMP) sesuai standar internasional (batas penerapan Desember 2007).
Referensi
Priyambodo, B., 2007, Manajemen Farmasi Industri, Global Pustaka Utama, Yogyakarta, hal: 30-35

OPINI

industri farmasi di Indonesia merupakan salah satu industri yang berkembang cukup pesat dengan pasar yang terus berkembang dan merupakan pasar farmasi terbedar di kawasan ASEAN.sehingga perkembangan industri farmasi di indonesia terus meningkat.

PENGARUH

Ekpor obat Indonesia dari tahun ke tahun menunjukkan peningkatan meskipun nilainya relatif belum besar yaitu sekitar 5% dari total penjualan industri farmasi Indonesia dan hal itu juga mempengaruhi investasi yang semakin meningkat.

PERKEMBANGAN

hubungan berkembangnya industri farmasi induatri indonesia dapat terlihat,Dengan makin membaiknya pendapatan per kapita dan sistem jaminan kesehatan Indonesia di masa mendatang, maka nilai peredaran obat di Indonesia akan besar. Keadaan ini tentu akan mempunyai korelasi postif dengan pertumbuhan industri farmasi Indonesia di masa mendatang.

Minggu, 17 Oktober 2010

Beat Stress - Secrets to Feeling Energetic and Calm

So, in order to beat stress, these are the measures to take every day, the secrets to feeling energetic and calm.
What is funny is that what is recommended is what I do, more or less every day!
Here we go:
- Taking a walk in the morning (at least 10 minutes) after breakfast is great because it will help your digestion.
- Organise your day according to your energy cycle:
When your energy is high, you are more likely to handle trickier things in your work. When your energy is low, you can do more run-of-the-mill activities that are required of you. For me, I usually plan to handle matters that require me to be very creative and alert in the morning. I keep the afternoon for dealing with matters that are easier and do not require so much drive.
- Promote relaxation and inspiring thoughts! Perhaps by watching a dvd, listening to an audio or reading, in order to keep your mind positive and on track throughout the day by being able to draw upon this beneficial input. Reading The Master Key System does this for me...
- to keep your mind positive and on track throughout the day and to be able to get back to this good input.
- Get back to feeling the sensations in your body, and now and then do some micro-movements at your desk, to clear tension from the neck, back (straighten it up) and shoulders (pull the shoulders back regularly).
- Drink a lot of water to clear your system and your brain (to keep them clear and clean and performing well).
- Take some deep breaths to remind you that you have a body, not just a mind! And to send extra oxygen to it, for energy.
- Go for a walk in the early evening. Make sure you walk a minimum of 40 minutes every day.
- You could also start boxing (I haven't done that yet!) in order to relieve stress, and build confidence through an intense training and fitness program.
- Take stress vitamins! A blend of herbs and vitamins specially formulated to help the body replace all the nutrients stress burns up, or use it as prevention, before you get stressed and anxious!
These are the secrets to feeling energetic and calm all day, to beat stress.

Independent living skills treatment program

A young adult independent living skills treatment program could be perfect for you, or your child, after finishing a residential treatment center for a little more help before returning home. After a therapy program there often needs to be a next step program for success.
The transitional independent living program is a new, and rapidly growing, idea. It came from seeing too many young adults fail after the intensive treatment programs. Their rules and structure for clients is necessary for some people. Real life is not highly structured and when young adults leave the treatment center, they are faced with a multitude of choices to make all on their own, without the counselors and rules of the program.
It is so easy to fall back into the patterns and choices that brought them to needing treatment once they return home. Most clients want to remain successful and stay with their treatment plan. When they are successful, they can continue to feel good about themselves and stay with those positive behavioral changes.
The after-care transitional program model gives a little extra support to young adults while they make independent life choices. They continue to receive assistance, while maintaining their own apartment, job, school and paying their own bills. They have many freedoms of living on their own, but also the support of transitional program counselors to help guide them toward continued success.
Living Well Transitions Independent Living Treatment Program will tailor the independent living skills treatment program to you or your child's unique needs. There will be a team of counselors dedicated to helping achieve success no matter what behavioral, substance or skills issues are present. Continue the personal growth and positive changes while living independently, the perfect balance, with Living Well Transitions. A place for young adults to thrive as we focus on helping them create a balance between opportunity and responsibility - through therapy, counseling, community networking, social skills enhancement, educational and vocational support, and additional resources as needed.

Rabu, 13 Oktober 2010

MENJADI APOTEKER MANDIRI MENGAPA TIDAK ???

Memulai usaha apotek sendiri merupakan hal yang menakutkan sekaligus menarik. Mengapa? Disatu sisi ini dapat menimbulkan resiko besar karena item obat yang banyak, umur obat dibatasi (ada Expire date), harga obat bervariasi mula 100 perak sampai jutaan.
Sehingga terkadang membingungkan dan dapat membikin pusing bila tidak dapat dikelola dengan baik dan professional oleh ahlinya yaitu apoteker.

Disisi lain ini adalah strategi kesempatan besar dalam membangun kehidupan berprofesi yang mandiri.

Apa saja yang perlu kita persiapkan agar bisa membuat langkah sukses ?
1. Lakukanlah semuanya dengan perencanaan sebaik-baiknya
2. Carilah tempat yang dirasa tepat untuk dijadikan apotek (buat studi kelayakan)
3. Pelajari ilmu lain karena Ilmu tentang kefarmasian saja belum cukup tetapi anda harus mempelajari Ilmu Manajemen pemasaran, manajemen SDM, Manajemen keuangan, ilmu komputer dll.
4. Pengalaman kerja, bila anda apoteker yang baru lulus tidak ada salahnya anda belajar dulu dengan senior disekitar anda yang telah sukses mengelola apoteknya sendiri (magang).
5. Belajar dari pengalaman
Ingat Membangun usaha (enterprener) itu juga dimulai dari nol seperti kita menjalani pendidikan semuanya berawal dari kelas nol (TK) hingga ke Perguruan tinggi (Sarjana) dan untuk menjadi enterprener sejati tidak ada sekolahnya ...yang ada niat dan kemauan...